Gadis biasa


Aku adalah gadis biasa, yang tidak seperti gadis biasa lainnya. Aku memiliki orang tua, namun yang bersamaku hanyalah Ibu saja. Ayah telah pergi, meninggalkanku—juga Ibu—saat umurku belum genap satu windu. Ia pergi dan menjalin kasih dengan perempuan lain—perempuan yang telah merenggut kebahagiaan hidupku.

Hari-hari kulalui dengan segenap hati. Dengan harap-harap Ayah dan Ibu kembali bersatu lagi, bersama denganku menjalin keluarga harmonis seperti dulu, lagi. Namun kutahu itu semua hanyalah ilusi, hingga belasan tahun berganti, aku hanya tetap bersama Ibu—di sini, di rumah yang tak pernah kuanggap rumah lagi setelah ayah pergi.

Ibu berubah semenjak ayah tiada lagi di antara kami, ibu menjadi seseorang yang sering marah-marah. Seringkali kupergoki ibu yang menangis tersedu di kamarnya saat tengah malam. Saat melihat itu, aku mengerti alasan emosi Ibu yang sering berapi-api ; Ayah yang t'lah pergi dan rasa pilu di hati.

Kini aku sudah menjadi Mahasiswi, Bu. Dengan beasiswa di Perjuruan Tinggi Negeri, aku akan pergunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Untuk menjadi sukses, membuatmu bangga dan bahagia, hingga lupa sakitnya luka yang ditorehkan oleh Suamimu, dulu. 

Dan, yang terpenting, aku akan membuat Ayah menunduk malu karena pernah meninggalkan kita, Bu. Aku akan membuat Ayah merundung pilu karena melihatku menjadi seseorang yang dibanggakan oleh seluruh penjuru. Aku akan membuat ayah tertusuk sendu karena pernah berkata bahwa aku hanyalah anak perempuan yang takkan pernah berguna di masa depanku.

Tapi satu, yang tak kalian tahu,

Walaupun begini, aku masih di sini dengan harap-harap Ayah kembali lagi, 'tuk menemaniku menikmati kesuksesanku bersama ibu, 'tuk mengganti kebahagiaan masa kecilku yang pernah direnggut oleh istri barunya dulu.

Dan, teruntukmu, istri Ayahku tetapi bukan ibuku, biarkan Ayahku kembali bersamaku, ya? Kumohon. Aku benar-benar menginginkannya.


Home