Apa kabar dirimu


HAI, APA KABAR DIRIMU?

Hai, apa kabar? Coba ingat, seberapa sering pertanyaan itu kamu lontarkan pada orang lain. Tapi, apakah pertanyaan yang sama sering juga kamu lontarkan pada dirimu sendiri?

Apa kabar diri? Sudah lebih baikkah dari tahun sebelumnya. Sudah ada kemajuankah dari hari-hari sebelumnya. Bukankah seharusnya semua berjalan naik, atau setidaknya berjalan stabil, bukan malah makin turun dan memburuk. Sudahkah semua terjadi seperti seharusnya? Ataukah, jangan-jangan kamu lupa bertanya pada dirimu. Kamu lupa apakah dia baik-baik saja atau malah sedang tidak baik-baik saja. Dan, lebih buruk masih bertahan dalam suasana buruk.

Apa kabar diri? Masihkah rela membiarkan dirimu ditahan bertahun-tahun oleh orang yang salah. Seseorang yang tidak bisa lebih baik padamu. Setiap hari hanya umpatan dan kekesalan yang kau terima. Setiap hari hanya emosi buruknya yang disalurkan padamu. Hingga kau lupa, kemana dirimu seharusnya? Kau sibuk menahan sedih, kau sibuk berpura-pura baik-baik saja, demi bertahan dengan seseorang yang tidak benar-benar sayang padamu.

Coba tanya dirimu. Apakah benar, seseorang yang kamu butuhkan adalah seseorang yang terus menyakiti dirimu? Rasa sakit itu racun dan candu. Selama kamu tidak memaksa dirimu untuk berubah jadi lebih baik, racun itu akan membunuh pelan-pelan. Akan menjauhkan harapanmu pelan-pelan. Dan akan mematikan semua impian. Ingat lagi, tanyakan kepada dirimu;apa benar sakit yang membuat candu itu yang kamu butuhkan? Ataukah jangan-jangan kamu hanya butuh berdamai dengan dirimu. Belajar mengambil risiko. Belajar mengambil keputusan untuk melepaskan orang yang sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadikanmu keseimbangan. Melepaskan orang yang hanya menyakitimu sepanjang kau bertahan. Tanya dirimu, sudahkah kau peduli pada dirimu sendiri?

Home